“Aduh, telat nih.” Keluh Min rin seraya berlari dan berhenti
di pinggir jalan.
Begitu melihat ada taksi, dia langsung menyetop taksi itu dan
naik ke dalamnya.
“Ke kantor SBS pak.” Ucap min rin kepada sopir taksi dengan
napas masih ngos-ngosan.
Taksi pun akhirnya melaju menuju kantor SBS. Selama
diperjalanan, min rin tak henti-henitnya melihat arloji di tangannya. “Semoga
masih sempat.” Kata min rin pelan seraya melihat jalan.
Sesampainya di depan kantor SBS, dia langsung membayar taksi
itu dan melanjutkan lagi olahraga larinya di dalam kantor. Dia berhenti selama
semenit untuk menyapa satpam yang telah mengenalnya. Lalu meneruskan lagi
olahraga larinya tanpa mempedulikan peringatan para staf.
“Semoga sempat. Semoga sempat. Semoga sempat.” Kata min rin
terus menerus selama berlari menyelusuri lorong kantor SBS menuju studionya.
Dia menyempatkan menundukkan kepalanya kepada staf yang menyapa sambil terus
berlari.
Tiga meter di depan ada lima orang cowok yang sedang ngobrol
dan bersiap untuk tampil. Seorang diantaranya berada di jalur tempat min rin
berlari.
Tinggal semester lagi jarak antar min rind an cowok tersebut.
Kebetulan saat itu min rin sedang melihat arlojinya sehingga…
GUBRAK… !!!
Min rind an cowok tersebut bertabrakan dengan sangat sukses.
Min rin jatuh terduduk dan barang bawaannya pun jatuh berserakan. Cowok tersebut
pun jatuh tepat di depan min rin. Cowok yang rambutnya dikuncir keatas reflek
membantu cowok yang terjatuh itu. Sedangkan min rin…
“Aduh… pake acara jatuh lagi. Siapa sih yang menghalangi
jalanku tadi ?.” omel min rin sambil mengelus pantatnya yang sakit.
Tiba-tiba ada tangan yang membantu min rin berdiri.
“Makanya lain kali jangan lari yah.” Kata suara cowok yang
membantu min rin berdiri.
Min rin menoleh untuk melihat suapa yang membantunya.
“OMO!! Dia kan nichkhun.” Kata pertama min rin yang spontan
keluar dari mulutnya.
Nichkhun hanya memasang wajah tersenyum melihat ekspresi
kaget min rin.
“Ah, gamsahamnida.” Kata min rin sambil membungkuk.
“Mianhaeyo udah nabrak.” Lanjut min rin meminta maaf.
“Kamu salah orang. Yang kamu tabrak tadi tu dia.” Jawab
nichkhun sambil menunjuk seorang cowok yang membelakangi min rin yang masih
sibuk merapikan pakaiannya.
Min rin menoleh mengikuti kemana arah yang ditunjuk oleh
tangan nichkhun.
Dia berjalan mendekati cowok yang ditabraknya.
“Mianhaeyo udah nabrak.” Ucap min rin minta maaf seraya
membungkuk.
Cowok itu berbalik dan berkata, “gwenchana. Lain kali
hati-hati.” Jawab cowok itu.
Tiba-tiba hape min rin berbunyi. Dan dia mengangkatnya masih
dalam keadaan membungkuk.
“Yoboseyo.” Sapa min rin begitu mengangkat telpon.
“YA!! Min rin-ah ! Kamu dimana?.” Kata suara diseberang
telpon.
“Ah, Ye, aq segera kesana.” Min rin menutup telponnya dan
berbalik memungut barang yang dia jatuhkan tadi tanpa sempat melihat wajah
cowok yang dia tabrak.
Min rin lalu berlari menuju kea rah orang yang tadi
menelponnya. Dia tidak sadar kalau buku agendanya tertinggal. Cowok yang tadi
ditabrak min rin melihat ke bawah dan memungut buku agenda min rin.
“Ayo pergi. Bentar lagi kita tampil.” Ajak nichkhun.
________________________
“Oppa, mianhae telat.” Kata min rin ngos-ngosan begitu sampai
di salah satu studio tempat Jungsoo bekerja sebagai PD yang mengatur jalannya
show yang diadakan di SBS.
“Mana yang tadi oppa suruh kamu bawa?.” Tagih Jungsoo.
Min rin menyerahkan salah satu naskah yang akan dipakai hari
itu.
“Tugas selesai. Sekarang ngapain yah?.” Ucap min rin pelan
sambil melihat sekeliling.
Akhirnya dia memutuskan untuk duduk di kursi penonton yang
masih kosong. Sekarang sedang berlangsung gladi bersih untuk acara yang akan
dimulai satu jam lagi. Sekarang yang sedang gladi bersih adalah salah satu
boyband yang sedang naik daun. Ya, boyband itu adalah 2PM.
Min rin menoleh ke samping kirinya yang daritadi ribut-ribut
meneriakkan satu-satu personil 2PM. Ada kira-kira 15 cewek yang menonton 2PM.
Mereka histeris karena bisa melihat idola mereka sebelum mereka tampil serius
di acara yang akan dimulai sebentar lagi.
“Haah… aq sama seperti mereka. Walopun aq bisa mengenal
mereka karena pekerjaan oppaku, tetap aja aq hanya seorang fans.” Min rin
menghembuskan napas dan menoleh kembali melihat panggung.
Min rin memangku tangannya sambil terus melihat salah satu
personil 2PM yang menarik hatinya. Dia tidak mengetahui bahwa personil 2PM itu
sadar kalau sedang diperhatikan olehnya. Tak lama kemudian, min rin memutuskan
untuk pulang tanpa menunggu gladi bersih 2PM selesai.
__________________
Begitu selesai gladi bersih, Junho kembali melihat ke tempat
duduk yang tadi ditempati seorang cewek yang terus memperhatikannya, tetapi
cewek itu sudah tidak ada ditempatnya.
Junho mengenal cewek itu. Cewek yang tadi menabraknya di
lorong. Dia kelihatan kecewa karena tidak menemukan cewek tersebut di kursi
penonton yang tadi didudukinya.
“Ah, apa dia gak butuh buku agendanya ya?.” Tanya junho pelan
pada diri sendiri.
_________________
Begitu sampai dirumah, min rin berniat melihat di agendanya
apakah besok ada acara atau tidak. Tapi setelah dia membongkar semua isi
tasnya, dia tidak menemukan buku kecil bersampul biru yang merupakan agendanya.
“Jangan-jangan agendaku jatuh. Aduh,,, jatuh dimana ya?.”
Kata min rin mulai panik.
“Mudah-mudahan orang baik yang mungut agendaku dan mau
mengembalikannya.” Ucap min rin setengah berharap.
Tiba-tiba dia dikagetkan dengan suara pesan masuk di
handphonenya. Secepat kilat min rin meraihnya dan berharap kalau itu ada orang
baik yang menemukan agendanya.
“Annyeonghaseo. Apa benar ini nomornya min rin? Aq
mendapatkan nomor kamu dari buku agenda yang kamu jatuhkan.”
Min rin membaca is isms itu. Lalu spontan di berteriak saking
senangnya. Dia buru-buru membalas sms itu.
“Ne, ini min rin. Ah, gamsahamnida udah nemuin agendaku. Bisa
mengembalikannya padaku bsk?.”
Beberapa menit kemudian…
“Besok di taman jam 10 ya.”
Min rin membaca sms itu dengan mata berbinar-binar.
“Ne. ne. gamsahamnida. Jeongmal gamsahamnida. Besok ketemu di
taman jam 10.”
Setelah membalas sms yang terakhir, min rin bisa tidur tenang
karena besok agenda kesayangannya bias kembali lagi padanya.
__________________
Keesokan harinya…
Min rin sudah berada di taman. Dia melihat arlojinya, masih
menunjukkan pukul 09.30 am.
“Masih setengah jam lagi waktu janjiannya.” Ucap min rin
pelan setelah melihat arlojinya.
Dia melihat sekeliling, dan mengahmpiri sekelompok anak TK
yang sedang bermain di kolam pasir.
Min rin menyapa anak-anak tersebut lalu ikut bermain bersama
anak-anak TK tersebut. Dia mencoba membangun istana dengan pasir tapi karena
kecerobohannya akhirnya istana tersebut roboh.
Min rin memasang wajah kecewa ala anak kecil yang membuat
anak-anak TK tersebut jadi menertawakannya.
Tak jauh dari situ, ada seorang namjayang sedari tadi
memperhatikan min rin ikut tertawa karena melihat tingkah laku dan kecerobohan
min rin.
Setelah selesai merobohkan semua istana, min rin lalu kembali
melihat arlojinya dan pamit pada anak-anak TK tersebut. Min rin berjalan dan
berhenti di depan ayunan lalu menaikinya. Tak lama kemudian, datang seorang
namja menghampiri dan menyapanya.
“Annyeonghaseo, min rin.” Sapa namja itu.
Min rin menghentikan ayunannya secara mendadak dan entah
kenapa dia jatuh dari ayunan itu. Namja tersebut membantu min rin berdiri
sambil tersenyum.
“Aduh, pake acara jatuh lagi. Malu-maluin.” Ucap min rin
dengan wajah memerah.
Senyuman namja itu semakin mengembang begitu mendengar ucapan
min rin.
“Ann… Annyeonghaseo.” Balas min rin malu.
“Gwenchana?.” Tanya namja itu.
“Ah, ne. gwenchana. Udah biasa.” Jawab min rin sambil
membersihkan pasir yang menempel di tangan dan kakinya.
“Jun… Jun.. Junho kan? Kenapa kok ada disini?.” Tanya min rin
seraya menutupi rasa malunya.
“Jalan-jalan.” Jawab junho singkat apdat dan jelas.
“Jalan-jalan? Gak ada schedule hari ini?.” Tanya min rin
heran, masih terus menutupi rasa malunya.
“Aku kesini karena udah ada janji sama….” Junho tidak
meneruskan omongannya karena melihat ada luka di kaki min rin.
“Kamu terluka tuh. Ayo.” Kata junho seraya menuntun min rin
duduk di kursi taman.
Min rin nurut ajah dituntun junho untuk duduk di kursi taman.
Lalu melihat kakinya.
“Ah, luka seperti ini sih gak pa pa.” kata min rin tenang.
Tapi junho udah berbalik dan berlari seraya berteriak,
“Tunggu disitu.”
Min rin hanya bisa bengong melihat junho pergi gitu ajah
sambil memiringkan kepalanya.
Dia menyentuh lukanya sambil meringis menahan sakit.
“Sakit juga ternyata. Kenapa sih pake acara jatuh segala?
Bikin malu aja di depan junho. Gak nyangka bisa ketemu dia di tempat seperti
ini.” Omel min rin. Mulai bicara sendiri.
Dia menepuk pipinya keras-keras dengan kedua tangannya.
“Aduh, sakit. Bukan mimpi berarti.” Ucap min rin sambil
mengusap pipinya yang merah.
Dia melihat junho berlari menghampirinya sambil membawa
sesuatu di tangannya. Begitu udah berada di depannya, junho berjongkok dan
mulai mengobati luka di kaki min rin.
Sontak min rin kaget dan dengan spontan pula dia menjauhkan
kakinya dari junho, sambil berkata, “Gak usah repot-repot diobati.”
Junho diam dan melihat min rin dengan tatapan seolah-olah
berkata “kamu diam aja”.
Junho meraih kaki min rin lagi dan mulai mengobati luka di
kakinya. Min rin hanya bisa pasrah melihat junho mengobati luka di kakinya.
“Kamu nggak pernah nggak jatuh ya tiap kali ketemu.” Junho
membuka obrolan seraya membersihkan luka di kaki min rin.
“Hah? Emank kita pernah ketemu sebelum ini?.” Tanya min rin
heran.
“Aku sering melihat kamu tiap kali kamu disuruh ama Jungsoo.
Diantara semua staf yang ada, cuman kamu yang cerobohnya gak ketolongan.” Jawab
junho.
Min rin memasang wajah jengkel.
“Oh, jadi maksudnya aku ini cewek paling ceroboh yang gak
pantes ada di SBS?.” Ucap min rin kesal.
“Udah, biarin aja lukanya. Kamu ka nada janji.” Kata min rin
menyingkirkan kakinya dari jangkauan junho.
Junho menarik kaki min rin lagi dan memasang plester.
“Aku udah menepati janji kok.” Kata Junho sambil menoleh kea
rah min rin.
Min rin hanya memasang wajah bingung.
“Kemarin kamu menabrakku waktu berlari di lorong kantor SBS
dan buku agendamu tertinggal. Aku yang memungutnya. Dan yang tadi malam sms
kamu itu aku. Masih ada kan nomornya.” Jelas Junho dengan suara tenang.
“Jadi… itu kamu?.” Tanya min rin yang langsung dijawab dengan
anggukan oleh Junho.
“Syukurlah… setidaknya aku jadi bisa melihat kamu yang
memakai pakaian biasa.” Ucap min rin keceplosan dan buru-btru menutup mulutnya,
lalu memalingkan wajah dari junho sambil memasang ekspresi menyesal.
Junho hanya diam mendengarnya.
“Ah, mianhae keceplosan. Aku kan cuman seorang fans. Sekarang
mana buku agendaku?.” Ucap min rin sambil mengulurkan tangannya.
“Kamu mau gak seharian ini menemaniku main di taman hiburan?
Setelah itu, aku baru akan mengembalikan buku agendamu.” Ajak Junho tiba-tiba.
“Hah? Nemenin kamu?.” Tanya min rin kaget.
“Tapi apa fansmu gak ngamuk kalau melihat kamu jalan ama
aku?.” Min rin Tanya balik.
“Makanya hari ini kita main sebagai teman. Untuk menghindari
adanya kesalahpahaman, aku udah mengajak teman-teman yang lain.” Jawab junho
santai.
Min rin keliahatan sedang berpikir. Dan akhirnya…
“Hmm… boleh deh. Kenalin donk dengan teman-temanmu.” Ucap min
rin akhirnya.
Junho hanya tersenyum begitu min rin setuju menemaninya.
Akhirnya dia mengambil handphone nya dan manggil teman-temannya untuk datang.
Beberapa menit kemudian, datanglah wooyoung, chansung, ha ra,
dan haneul. Min rin kaget melihat sapa yang datang. Ternyata anggota yang lain
beserta teman-teman yeoja mereka. Min rin hanya bisa geleng-geleng kepala
melihatnya.
“Annyeonghaseo.” Sapa ha ra dan haneul kepada min rin sambil
menunduk.
Min rin pun membalas menunduk, “Annyeonghaseo.”
“Ha ra imnida.”
“Haneul imnida.”
“Ah, ne. Min rin imnida.” Balas min rin memperkenal dirinya.
“Jadi kamu yang bernama min rin yah?.” Tanya ha ra.
Min rin hanya mengangguk.
“Kalo kita udah kenal kan?.” Tanya wooyung.
Min rin hanya mengangguk seraya tersenyum.
Akhirnya mereka pun berjalan menujt taman hiburan dan mulai
bermain. Yang pertama kali mereka naiki adalah roller coaster.
Selama bermain, min rin mencuri pandang ke junho beberapa
kali. Dia melihat kalau junho selalu tersenyum setiap kali menaiki permainan.
Min rin pun berpikir bahwa junho sangat menikmati refreshingnya kali ini. Dan
ikut tersenyum karena melihat senyuman di wajah junho.
Sejam kemudian,,,
“Istirahat dulu yuk. Liat tuh si min rin sepertinya tidak
enak badan.” Ajak haneul setelah melihat kondisi min rin yang agak kurang
sehat.
Semua kepala menoleh ke min rin dan akhirnya mengangguk.
Mereka pun duduk di kursi taman dekat situ.
“Min rin ? Gwenchana ?.” Tanya junho khawatir.
“Iyah, gwenchana. Paling Cuma sedikit pusing ajah. Karena
sebenarnya aku gak kuat kalo naik semacam roller coaster. Gak usah khawatir.”
Jawab min rin.
“Lho kenapa gak bilang kalau kamu gak bisa naik itu? Kan bisa
diganti dengan yang lain. Gak usah dipaksakan. Aku jadi ngerasa bersalah karena
aku yang memintamu untuk menemaniku.” Kata junho kaget dan ngerasa bersalah.
“Iyah, kamu gak usah maksain kalau emank gak bisa naik
permainan semacam itu.” Timpal haneul.
“Nanti kalau kamu sakitnya parah gimana?.” Tambah chansung.
“Nggak apa-apa kok. Tadi aku liat semuanya bersemangat sekali
pingin naik itu. Makanya aku diam aja karena gak mau merusak kesenangan
kalian.” Ucap min rin menenangkan semua.
“Kalau gitu, kamu tunggu disini aja. Aku sama haneul beli
minum dulu.” Kata chansung seraya mengajak haneul pergi.
“Aku sama ha ra beli snack dulu di toko itu.” Kata wooyoung
seraya menunjuk toko yang ada di depan mereka., dan mengajak ha ra pergi.
Akhirnya tinggallah junho dan min rin berdua duduk di kursi
taman.
“Kamu beneran gak pa-pa?.” Junho bertanya sekali lagi.
Min rin hanya mengangguk sambil terus menunduk ke bawah.
“Tapi muka kamu pucat.” Kata junho meihat wajah min rin
dengan suara yang lebih khawatir.
Min rin hanya diam. Lalu sesaat kemudian…
“Sebaiknya aku pulang duluan yah.” Ucap min rin akhirnya
seraya mendongak dan bersiap-siap berdiri.
Junho reflek ikutan berdiri.
“Oia, buku agendaku mana? Aku sudah menemanimu.” Pinta min
rin seraya mengulurkan tangannya.
“Aku antar kamu pulang. Buku agendamu ada di dalam mobil.”
Kata junho seraya memegang tangan min rin.
“Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri kok.” Tolak min rin
seraya menyingkirkan tangan junho dari lengannya.
Junho hanya diam dan berjalan menuju mobilnya diparkir. Min
rin mengikuti dari belakang.
Dia mengambil buku agenda di dalam mobilnya lalu
menyerahkannya pada min rin. Min rin menerimanya.
“Gomapta udah mengembalikan buku agendaku dan annyeongi
gaseyo.” Ucap min rin seraya membungkuk.
“Annyeongi gyeseyo.” Balas junho.
Min rin berbalik dan berjalan pelan menuju stasiun. Dia tidak
sadar bahwa ada mobil yang mengikutinya dari belakang. Min rin berjalan pelan
sambil sesekali memegangi kepalanya. Dia berhenti sebentar di minimarket untuk
membeli minuman. Lalu meneruskan perjalanannya.
Tinggal beberapa meter lagi sampai stasiun, entah kenapa min
rin merasa kalau kepalanya sudah tidak bisa diajak kompromi dan akhirnya dia
merasa sangat sangat pusing dan pingsan. Sebelum badannya jatuh ke tanah, sudah
ada tangan yang menyangga badan min rin. Dan mengendong min rin masuk ke dalam
mobilnya, kemudian diantar pulang sampai ke rumah.
Setelah mengantarkan min rink e rumahnya pun, orang tersebut
tidak langsung pulang. Tetapi tetap tinggal untuk merawat min rin.
[Keesokan harinya]
Min rin tidak ingat kejadian kemaren kenapa dia bisa ada di
rumah. Yang dia ingat, kemaren dia pingsan di jalan. Tapi kenapa tau-tau dia
udah ada di rumah. Oppa nya pun tidak mau menceritakan apa-apa tentang semalam.
“Min rin, hari ini kamu bias membantu oppa apa tidak?.” Tanya
Jungsoo saat hendak berangkat kerja.
Min rin menoleh.
“Bantu apa, oppa? Oppa tidak mau menceritakan tentang
semalam. Jadi aku tidak bisa janji.” Jawab min rin kesal.
“Kamu bantu aja oppa hari ini. Nanti kamu bakal tau sapa yang
udah bawa kamu pulang kemaren malam.” Kata Jungsoo berusaha merayu min rin.
Min rin cemberut dan mengerutkan keningnya, tanda dia sedang
mempertimbangkan perkataan oppanya.
“Iyah deh. Bantu apa dulu nih?.” Kata min rin akhirnya
memutuskan untuk membantu karena penasaran.
“Kamu jadi salah satu staf asisten stylist yah. Ada salah
satu staf yang hari ini mendadak tidak bisa masuk.” Kata Jungsoo min rin.
“Emank artisnya sapa?.” Tanya min rin.
“2PM.” Jawab Jungsoo singkat.
Min rin hanya bisa bengong mendengar jawaban oppanya.
“HAH? 2PM?.”
Jungsoo hanya mengangguk dan tersenyum.
“Tapi kan oppa tau kalo aku nge-fans ama mereka terutama…”
Lagi-lagi Jungsoo hanya mengangguk dan terus tersenyum.
“Aku gak bisa kalau harus megang-megang mereka.”
*megang rambut ama baju maksudnya*
“Kamu pasti bisa. Kamu kan kalo udah berhadapan ama yang
berhubungan dengan fashion udah langsung melupakan hal-hal yang lain.” Kata
Jungsoo berusaha meyakinkan min rin.
Min rin pun akhirnya hanya bisa mengangguk dan mengikuti
oppanya berangkat ke kantor.
Sesampainya di studio SBS…
Min rin terdiam untuk beberapa saat di depan ruang ganti 2PM.
Akhirnya dia pun memutuskan untuk melakukan permintaan oppanya. Dia baru mau
membuka pintu, tiba-tiba pintu terbuka ke depan dan membuat min rin pun jatuh
ke depan. Dia jatuh menimpa seorang namja. Untung dia hanya jatuh di menimpa
dada si namja. Padahal beberapa meter lagi dia bisa saja menimpa wajah si
namja.
“Aduh,,,” kata min rin dan si namja itu berbarengan.
Perlahan min rin bangun dan melihat siapa yang dia tabrak.
“OMO.” Pekik min rin kaget.
“Jun.. Jun.. Junho. Mianhae… Mianhaeyo. Aku tidak tau kalau
kamu ada di belakang pintu.” Ucap min rin meminta maaf sambil memasang wajah
menyesal.
“Kenapa setiap kali aku ketemu kamu selalu aja ditabrak?
Sensi banget sih.” Keluh junho seraya berdiri dan mulai merapikan pakaiannya.
“Mianhae. Sini biar aku yang merapikan pakaian kamu.” Kata
min rin menawarkan diri.
“Gak usah.” Tolak junho.
Min rin hanya diam dan menunduk.
“Hari ini aku bertugas sebagai asisten stylist. Oppaku yang
meminta aku.” Kata min rin pelan berusaha menjelaskan.
“Makanya aku masuk ke dalam ruang ganti ini.” Lanjut min rin.
Personil 2PM yang lain menyambut min rin dengan senang. Tapi
sepertinya junho tidak.
Min rin baru mau mulai pekerjaannya. Dia mulai memeriksa dan
merapikan pakaian junsu. Tetapi tiba-tiba junho memanggilnya.
“Min rin. Coba kamu liat. Pakaianku jadi seperti ini. Susah
benerinnya.” Protes Junho sambil memperlihatkan pakaiannya yang sedikit
acak-acakan gara-gara tabrakan tadi.
“Padahal bentar lagi kita mau tampil.” Lanjut junho.
“Oh, iyah. Aku segera benerin pakaianmu.” Jawab min rin
seraya berjalan kea rah junho dan mulai memperbaiki pakaian junho.
Min rin merapikan pakaian junho yang dibelakang dan merambat
merapikan pakaian yang di depan. Lalu dia juga merapikan tatanan rambut junho
yang sedikit berantakan. Ternyata benar kata oppanya. Kalau dia sudah berhadapan
dengan yang namanya fashion, dia tidak memperhatikan sekitarnya. Tampak
ekspresi min rin sangat serius ketika merapikan pakaian dan rambut junho.
Sampai akhirnya, ada pemberitahuan kalau sudah waktunya 2PM tampil.
Min rin menghentikan pekerjaannya dan melihat hasil kerjanya.
Dia tampak puas.
“Sudah selesai.” Kata min rin sambil mundur beberapa langkah.
“Sekarang giliran kamu dan grupmu tampil.” Ucap min rin
sambil menatap junho.
Junho hanya diam dan menatapnya.
“Oke. Gomawo yah.” Kata junho sambil berbalik dan berjalan
keluar ruangan.
Tapi begitu sampai pintu, junho berbalik.
“Min rin kamu harus menonton juga di samping panggung dekat
kursi penonton.” Kata junho lalu berbalik dan berlari pergi.
Min rin hanya diam.
“Ada apa yah?.” Batin min rin.
Karena penasaran, min rin pun berjalan keluar ruangan menuju
tempat dimana junho memintanya untuk berada disitu.
Sesampainya disamping panggung, min rin melihat performance
2PM keren seperti biasanya. Dia pun ikut histeris melihat penampilan mereka di
atas panggung. Dan seperti biasa, min rin tak tahan melihat banyaknya fans yang
teriak histeris. Jadi dia memutuskan pergi dari situ dan berjalan masuk kembali
ke ruang ganti.
Di dalam ruang ganti, min rin sibuk bereksperimen dengan
rambutnya sendiri. Di sisi lain, junho melihat ke tempat dimana seharusnya min
rin berada. Tetapi langsung kecewa begitu melihat min rin tidak ada disitu.
Begitu selesai perform, junho langsung berlari kea rah ruang
ganti. Sampai di depan pintu, dia langsung membuka pintu sampai pintu itu
menabrak tembok dengan suara yang keras. Min rin yang berada di dalamnya pun
kaget setengah hidup. Dan reflek menoleh kearah pintu.
“Ya ampun, junho. Pelan-pelan donk kalau buka pintu. Kaget
nih. Mau ganti baju yah?.” Kata min rin setelah sadar dari kagetnya seraya
berdiri.
Junho diam ajah. Jadi min rin pun mengartikan kalau junho
emank mau ganti baju. Min rin berjalan menuju pintu. Sebelum sampai pintu, dia
kesenggol kursi dan akhirnya jatuh lagi.
*heran, jatuh kok suka yah?*
“Aduh,,,” ucap min rin seraya berdiri lagi.
Tetapi junho hanya diam di tempatnya berdiri. Min rin
meringis dan sedikit kecewa karena junho tidak mau membantunya berdiri. Min rin
melanjutkan berjalan kearah pintu. Begitu sampai di depan junho.
“Minggir donk. Gimana aku bisa keluar kalau kamu menghalangi
pintunya?.” Pinta min rin dengan nada sedikit kesal karena junho tidak
membantunya berdiri tadi.
Lagi-lagi junho hanya berdiri diam sambil memperhatikan min
rin. Hal ini membuat min rin jadi lebih sebel. Min rin kehilangan kesabarannya.
Dia berusaha menarik junho untuk menyingkir dari pintu. Tapi junho tak sedikit
pun bergeming. Min rin masih terus berusaha. Dan junho pun tetap tidak mau
menyingkir dari pintu.
“당신이 곻아요.”
Kata Junho tiba-tiba.
Min rin langsung mengehntikan usahanya menyingkirkan junho
dari pintu begitu mendengar perkataan junho barusan. Dia kaget dengan apa yang
barusan didengarnya.
“Mwo ?? Kamu barusan bilang apa?.” Tanya min rin meyakinkan
pendengarannya.
“당신이 곻아요.”
Junho mengulang perkataannya.
“Kamu serius?.” Min rin tidak percaya dengan apa yang dia
dengar.
“Tapi aku ini kan cuman seorang yeoja yang selalu nabrak kamu
tiap kali ketemu. Cuman seorang fans yang hanya sekedar suka dengan idolanya.
Tidak pantas mendengar perkataanmu yang barusan.” Kata min rin tak percaya.
Junho menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku sangat yakin. Dan
aku sudah menyukaimu sejak pertama kali melihatmu. Kamu yang selalu mengirimkan
makanan di meja riasku diruang ganti, kamu juga yang selalu menuliskan pesan-pesan
untuk mengingatkan aku. Seolah-olah kamu sudah mengenalku daripada aku
sendiri.”
“Tapi itu kan hal yang wajar yang dilakukan seorang fans pada
idolanya. Pasti kan banyak fans-fans kamu yang bersikap seperti itu.” Ucap min
rin membela diri.
Lagi-lagi junho menggelengkan kepalanya.
“Diantara semua fans yang datang menonton tiap kali 2PM
perform, hanya kamu seorang yang tidak ikut berteriak seperti mereka. Kamu
hanya diam sambil terus memperhatikan diriku.” Terang junho.
“Oh, kalo itu karena aku sedang tidak ada tenang untuk ikut
berteriak.” Lagi-lagi min rin membela diri.
“Sejak pertama kali aku melihatmu, entah kenapa ada yang beda
dengan hatiku.” Ucap junho.
“Aku adalah cewek yang ceroboh. Cewek yang gak suka naik
roller coaster atau apapun namanya itu. Aku hanya seorang cewek yang hanya bisa
memperhatikanmu dari kejauhan. Karena kamu milik semua orang. Kamu idola semua
orang.” Kata min rin panjang lebar. Dia masih tidak percaya dengan apa yang
terjadi padanya.
“Kemaren malam, aku yang mengendongmu waktu kamu pingsan. Dan
aku juga yang merawatmu. Aku menggunakan alasan mengembalikan buku agendamu
supaya kamu bisa pergi bermain denganku. Aku juga yang meminta jungsoo untuk
mengenalkanmu padaku, karena aku sering memperhatikanmu selama kamu berada di
studio dan membantu staf yang lain. Aku juga yang meminta jungsoo untuk
memintamu jadi asisten stylist. Aku juga gak suka kalau kamu merapikan pakaian
namja lain selain diriku.” Junho berusaha menjelaskan semuanya.
Min rin hanya diam. Dia masih tidak bisa mempercayainya.
“Tidak mungkin. Kenapa? Kenapa harus aku?.” Tanya min rin
tidak percaya.
“Aku tidak punya jawaban atas pertanyaanmu itu. Yang aku tau,
hanya aku menyayangi seorang yeoja bernama Park Min Rin.” Jawab junho.
Min rin hanya diam. Dia melihat ada celah disamping junho
untuknya. Dia buru-buru berjalan keluar dan berlari. Junho pun mengejarnya.
“Min rin. Min rin. Tunggu. Jawab dulu. Kumohon jangan lari.”
Teriak junho seraya terus mengejar min rin.
Tapi min rin tidak menghentikan larinya. Sampai dia menemukan
tempat untuk bersembunyi.
Junho berlari dan sampai di tempat dimana min rin
bersembunyi. Namun, karena dia tidak dapat melihat min rin. Dia hanya menoleh
kiri kanan sambil memutar badannya. Dia mencari min rin dengan putus asa.
Sedangkan min rin hanya duduk diam di tempatnya bersembunyi sambil menangis.
Akhirnya junho pun menyerah. Dia berjalan kembali menuju
ruang ganti SBS dengan wajah lesu. Anggota yang lain khawatir dengan keadaan
junho yang begitu datang langsung menendang kursi. Lalu dia pun duduk sambil
memangku wajahnya dengan tangannya.
“Kenapa kamu lari min rin?.” Kata junho pelan dan putus asa.
[ 2 tahun kemudian ]
“Ayo semuanya. Siap-siap. Bentar lagi sudah mau OnAir.”
Teriak Jungsoo.
Sebelum para personil 2PM siap-siap dipanggung, junho
mendengar salah satu staf bertanya pada Jungsoo.
“Jungsoo, bukannya dongsaengmu hari ini pulang ke seoul
yah?.” Tanya staf itu.
“Oh, iyah. Tapi dia langsung dating kesini kok. Dia kan
kangen ama oppanya.” jawab jungsoo berseri-seri.
“Udah 2 tahun yah dia pergi ke amerika. Katanya untuk
pengobatannya yah?.” Tanya staf itu lagi.
“Iyah. Untungnya dia sudah sembuh total.” Jawab jungsoo
senang.
“Hyung, emanknya min rin sakit apa?.” Tiba-tiba junho dating
dan bertanya pada jungsoo.
Jungsoo kaget dan menjawab, “Lebih baik kamu tanyakan sendiri
padanya nanti.” Seraya tersenyum.
“Iyah, kalau dia tidak lari lagi.” Kata junho pelan dan
bersiap-siap ke panggung.
~~ Di depan SBS ~~
“Sudah lama tidak kesini. Gimana kabar semuanya yah?.” Kata
min rin sambil melihat bangunan SBS dari atas ke bawah.
Min rin berjalan masuk menuju studio dengan pelan sambil
tersenyum. Sebenarnya dia takut kalau harus berhadapan lagi dengan junho.
“Mungkin sekarang junho sudah punya yeoja chingu yang dia
sayang.” Kata min rin pelan dengan nada seidkit kecewa. Dia berusaha memasang
wajah cerianya seperti biasa.
Saat min rin masuk studio, kebetulan saat itu 2PM sedang
perform. Min rin berjalan menuju tempat favoritnya, yaitu di kursi penonton
samping panggung. Kali ini dia tetap duduk disitu sampai saat terakhir 2PM
perform. Begitu 2PM selesai perform. Dia pun beranjak dari tempat itu dan
berjalan menuju tempat oppanya berada.
Dia mengendap-endap dari belakang.
“Oppa.” Kata min rin sambil memeluk oppanya dari belakang.
Sontak oppanya menoleh dengan kaget.
“Min rin. Lama tidak ketemu.” Kata oppa jungsoo sambil
memeluk dongsaengnya itu.
Min rin hanya tersenyum senang.
Dari jauh junho melihat adegan itu dengan wajah yang sulit
ditebak. Min rin pun menangkap bahwa junho memperhatikannya.
Min rin melepas pelukan oppanya dan berjalan menuju junho.
Begitu dia berada di depan junho, dia memasang wajah senyumnya yang paling
manis.
“Annyeong junho. Lama tidak bertemu.” Sapa min rin seraya
tersenyum.
Junho diam saja.
“Mianhae, waktu itu aku lari. Aku pasti sudah menyakitimu.
Aku pasti sudah mengecewakanmu karena pergi ke amerika tidak bilang-bilang.
Kamu pasti sudah punya yeoja chingu sekarang.” Kata min rin panjang lebar.
Junho hanya mendengarkan celotehan min rin.
Tiba-tiba junho memeluk min rin dengan sangat erat.
“보고히보요. 다시볼수있으면좋겠어요.하루종일당신생각을해요.”
Kata Junho masih terus memeluk min rin.
Min rin kaget dibuatnya. Dia tidak menyangka kalau junho akan
bersikap seperti ini. Ternyata perasaannya junho terhadapnya tidak berubah
sedikitpun meski sudah lewat 2 tahun sejak kejadian itu. Hati kecil min rin
senang mendengarnya. Namun, dia masih bingung harus bersikap seperti apa.
“Kumohon lepasin junho.” Kata min rin berusaha melepaskan
pelukan junho.
“Kamu harus janji jangan lari lagi kalau aku melepasmu.” Kata
junho.
“Iyah, aku janji.” Jawab min rin.
Junho pun melepas pelukannya. Dan menatap wajah yeoja yang
terus menerus berada di hatinya selama dua tahun ini.
Min rin diam membisu. Dia bingung harus berkata apa.
Junho pun ikutan diam. Dia hanya terus menatap min rin.
Sepertinya dia memuaskan dirinya sendiri untuk menatap wajah min rin yang
selama dua tahun ini tidak dilihatnya.
“Sekarang boleh aku menanyakan jawabannya?.” Tanya junho
memulai pembicaraan.
Wajah min rin mulai memerah.
“Kamu masih yakin dengan perkataanmu? Padahal sudah lewat dua
tahun.” Min rin mau memastikan terlebih dahulu.
Junho hanya mengangguk mantap. Dia sangat yakin seratus
persen.
“Aku terus menunggumu. Selama dua tahun ini, emank sih aku
sempat deket dengan beberapa yeoja. Tapi tidak ada yang seperti kamu.” Jawab
junho.
“Hmm… boleh aku mendengarnya lagi? Pernyataanmu.” Pinta min
rin sekali lagi.
“Min rin-ah… saranghae.” Kata junho.
Min rin hanya senyum mendengarnya. Sebenarnya dia sangat
senang.
“Na do… saranghae.” Ucap min rin akhirnya seraya tersenyum.
Junho tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
“Apa?.” Tanya junho sekali lagi.
“Junho-ah… saranghae.”
“Jeongmal?.” Tanya junho tidak percaya.
Min rin hanya mengangguk dan tersenyum.
Senyum mengembang lebar di bibir junho. Dia tidak percaya
kalau ternyata min ri juga menyukainya.
Mereka pun akhirnya berpelukan lagi. Dengan diiringi sorakan
dari para staf yang masih berada di studio.
Akhirnya min rin dan junho pun bersatu setelah berpisah
selama dua tahun.
[THE END]
note:
- 당신이 곻아요
= artinya aku menyukaimu ... [kata-kata junho yang pertama]
- 보고히보요.. 다시볼수있으면좋겠어요..
하루종일당신생각을해요.. artinya :
aku kangen.. aku berharap bisa bertemu kamu secepatnya.. aku
memikirkan dirimu setiap hari..
[kalimat yg diucapkan junho saat memeluk min rin]
N.b: Seandainya saja ini kenyataan…
>.<
Wakakakakak…Mian kalo hangulnya salah...
No comments:
Post a Comment