“Aduh, telat nih.” Keluh Min rin seraya berlari dan berhenti
di pinggir jalan.
Begitu melihat ada taksi, dia langsung menyetop taksi itu dan
naik ke dalamnya.
“Ke kantor SBS pak.” Ucap min rin kepada sopir taksi dengan
napas masih ngos-ngosan.
Taksi pun akhirnya melaju menuju kantor SBS. Selama
diperjalanan, min rin tak henti-henitnya melihat arloji di tangannya. “Semoga
masih sempat.” Kata min rin pelan seraya melihat jalan.
Sesampainya di depan kantor SBS, dia langsung membayar taksi
itu dan melanjutkan lagi olahraga larinya di dalam kantor. Dia berhenti selama
semenit untuk menyapa satpam yang telah mengenalnya. Lalu meneruskan lagi
olahraga larinya tanpa mempedulikan peringatan para staf.
“Semoga sempat. Semoga sempat. Semoga sempat.” Kata min rin
terus menerus selama berlari menyelusuri lorong kantor SBS menuju studionya.
Dia menyempatkan menundukkan kepalanya kepada staf yang menyapa sambil terus
berlari.
Tiga meter di depan ada lima orang cowok yang sedang ngobrol
dan bersiap untuk tampil. Seorang diantaranya berada di jalur tempat min rin
berlari.
Tinggal semester lagi jarak antar min rind an cowok tersebut.
Kebetulan saat itu min rin sedang melihat arlojinya sehingga…
GUBRAK… !!!
